Senin, 01 November 2010

Kompetensi Guru Sekolah Minggu

Kompetensi Guru Sekolah Minggu
oleh : Rianto, M.M., M.Pd.K

Implementasi Sekolah minggu berhasil adalah kunci sukses sebuah gereja yang maju dan bertumbuh. Pertumbuhan gereja bisa dibaca dari perkembangan sekolah minggu. Sekolah minggu tidak terlepas dari guru. Pertanyaan adalah apakah guru sekolah minggu sudah berkompetensi ? Inilah yang perlu dibahas. pada kesempatan ini saya akan menguraikan Guru Sekolah Minggu; Kompetensi Guru dan Kompetensi Guru Sekolah Minggu.
Sekolah Minggu.

1. Pengertian Sekolah Minggu
Sekolah minggu merupakan kegiatan gereja untuk menjangkau dan membawa setiap orang kepada Tuhan Yesus serta mengajarkan Alkitab untuk mengubah kehidupan mereka menjadi murid Yesus yang penuh pengharapan. Harapan utama adalah memperoleh keselamatan. Keselamatan yang dapat diperoleh dengan mengimani atau mempercayai Tuhan Yesus diajarkan melalui Sekolah Minggu .
George R. Knight mencermati filosofi pendidikan sebagai berikut :
“Filosofi pendidikan adalah menghasilkan guru-guru, kepala sekolah, konselor dan ahli kurikulum masa depan yang akan langsung berhadapan dengan banyak pertanyaan yang mendasari arti dan tujuan pendidikan. Jadi tugas utama dari filosofi pendidikan adalah menolong para pendidik agar benar-benar berpikir tentang pendidikan yang menyeluruh dan proses kehidupan supaya mereka dapat berada di dalam posisi yang lebih baik untuk mengembangkan program yang konsisten dan komprehensif yang akan membantu murid-murid mencapai target yang memuaskan.”
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa :
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
negara .

Dari pernyataan di atas dapat digaris bawahi beberapa hal yang terkait dengan pendidikan yaitu :
1. Pendidikan dilaksanakan dengan mengutamakan perencanaan yang matang dan bertujuan sehingga segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa diarahkan pada pencapaian tujuan.
2. Pendidikan tidak boleh mengesampingkan proses belajar dan tidak semata-mata berusaha untuk mencapai hasil belajar. Dengan demikian antara hasil dan proses belajar harus berjalan secara seimbang.
3. Suasana belajar dan pembelajaran diarahkan agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya, berarti proses pendidikan harus berorientasi kepada siswa (student active learning).
4. Akhir dari proses pendidikan adalah kemampuan anak untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa proses pendidikan berujung kepada pembentukan sikap, pengembangan kecerdasan intelektual, serta pengembangan ketrampilan anak sesuai kebutuhan. Dan tujuan Pendidikan Nasional seperti yang tertuang dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 yang menyatakan bahwa :

“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Menurut Wallem menyatakan bahwa ”Sekolah minggu” adalah sekolah yang diadakan pada hari minggu” . Hal ini juga sependapat dengan Lautfer dan Dyck (1998:3) menyatakaan bahwa ”Sekolah Minggu” adalah anak dikumpulkan dan diajar firman Tuhan pada hari minggu .
Elsie Rives menyatakan bahwa Sekolah Minggu adalah organisasi gereja yang diatur untuk menjangkau dan mengajar orang tentang pesan Alkitab dan membimbing mereka untuk mengikuti dan melakukan pekerjaan yang diperintahkan Allah . Dari pendapat di atas dapat ditarik benang merahnya, bahwa sekolah minggu adalah kegiatan keorganisasi gereja yang dilaksanaan pada hari minggu untuk mengajar dan membimbing tentang pesan Alkitab untuk mendapatkan pengharapan keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus.
3. Kurikulum Sekolah Minggu
Kurikulum dapat diibaratkan sebagai menu makanan yang disusun oleh seorang ibu rumah tangga yang baik. Jika makanan yang disajikan selalu sama, tentu akan membosankan seisi rumah. Demikian halnya dengan kurikulum di Sekolah Minggu, karena secara rohani anakpun membutuhkan makanan yang bergizi dan
bervariasi, sesuai dengan tingkat umur dan pola pikir yang telah mereka capai. Melaluinya ”nafsu makan” dipelihara dan mereka dapat bertumbuh secara rohani
Kurikulum dikemas untuk memenuhi kebutuhan murid sesuai kelompok usia . Lebih lanjut menurut Wyckoff dalam Leo Sutanato menyatakan bahwa ”Kurikulum adalah alat komunikasi yang direncanakan dengan sangat hati-hati, yang digunakan oleh gereja dalam bidang pengajarannya agar iman dan hidup Kristen dapat dikenal, diterima, dan hidup”. SK Mendiknas No. 232/U/2000 Ps.1 butir 6 menyatakan bahwa ”Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaiannya dan penilaiannya yang digunakan perguruan tinggi.”
Dengan kedua pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa kurikulum berfungsi sebagai pedoman untuk mengkomunikasikan rencana pengaturan kegiatan belajar mengajar yang harus dimiliki, dipahami, dan dilakukan oleh para pengelola dan pelaksanaan Sekolah Minggu.
4. Peran dan Fungsi Sekolah Minggu
Peran dan fungsi Sekolah Minggu merupakan dua aspek yang saling berkaitan. Peran tersebut tidak dapat terwujud bila fungsinya tidak dapat dilaksanakan. Pengelolaan dan guru sebagai pelakasan harus memahami dan mengupayakan agar Sekolah Minggu dapat berjalan sesuai dengan perannya dan bermanfaat sesuai dengan fungsinya. Menurut Sutanto mengatakan bahwa ada empat peran Sekolah Minggu yaitu, sebagai pusat pendidikan non formal, ujung tombak pekabaran Injil, alat penjangkau, dan penyalur bakat.
a. Pusat Pendidikan Non-formal
Sebagai pusat pendidikan non-formal, Sekolah Minggu berfungsi untuk mengubah sikap dan tingkah laku murid. Perubahan terjadi secara bertahap dalam proses belajar memahami kebenaran firman Tuhan.
b. Ujung Tombak pekabaran Injil
Murid-murid Sekolah Minggu yang sudah diubah sikapnya dan siap menjadi pelayan Tuhan adalah ujung tombak Pekabaran Injil (PI). Tujuan PI yaitu menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus.
c. Alat Penjangkau
Ujung tombak pekabaran Injil merupakan alat penjangkau setiap individu yang sudah atau belum mengenal Yesus dan yang sudah atau belum percaya kepada Yesus. Alat penjangkau yang efektif berupaya menciptakan kegiatan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan untuk menarik target individu yang akan dijangkau.
d. Penyalur Bakat
Kepedulian gereja terhadap masyarakat di sekitanya dapat ditunjukkan dengan berbagai kegiatan untuk mengetaskan kemiskinan moral dan material. Yesus datang untuk memberkati kehidupan manusia secara rohani dan jasmani. Sekolah Minggu, mewakili jemaat gereja, mengemban tugas ini. Kehadiran Sekolah Minggu harus dirasakan berkatnya oleh masyarakat sekitar yang mempunyai latar belakang dan kehidupan yang beraneka ragam. Berkat-berkat Sekolah Minggu yang disalurkan kepada semua umat manusia dapat berupa doa, daya, pemikiran dan dana .



Guru Sekolah Minggu

1. Pengertian Guru Sekolah Minggu
Guru adalah pendidik yang memberikan perhatian bagi pembentukan dan pengembangan kepribadian peserta didik dalam arti seutuhnya untuk menuju kedewasaan . Menurut Pullias dan Young dalam Sidjabat menyatakan bahwa guru adalah segala-galanya, artinya, murid amat berharap banyak atas peran dan fungsi yang dilakukan oleh gurunya. Lebih lanjutkan Pullias dan Young (1968) menyatakan bahwa :
Seorang guru adalah pembimbing, pendidik, pembaru, teladan hidup, pencari gagasan baru, penasihat(konselor), pencipta, pemegang otoritas, pengilham cita-cita, penutur cerita dan sebagai penilai .

Pendidikan yang semakin baik akan mempengaruhi cara berpikir seseorang dan akan dapat menganalisis berbagai persoalan yang ada disekitarnya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan semakin luas cakupan berfikirnya dan akan semakin tajam di dalam menganalisis berbagai persoalan yang menjadi perhatiannya, dengan demikian akan membentuk motif dirinya. Seseorang yang memutuskan diri untuk menjadi guru antara lain disebabkan karena dia memahami potensi diri dan kecintaanya kepada profesi yang akan ditekuninya. Tanpa kesadaran dan kualifikasi pendidikan tertentu seseorang yang mengambil keputusan menjadi guru akan mengalami banyak persoalan, apalagi dengan adanya motivasi bersedia menjadi guru daripada tidak ada pekerjaan.
Melihat berbagai persoalan dengan sumber daya seorang guru di Indonesia maka Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 mengatur tentang standarisasi pendidik dan tenaga kependidikan. Dengan diadakannya standarisasi pendidik dan tenaga kependidikan menunjukkan bahwa seorang guru harus memiliki standar kompetensi tertentu seperti yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nosional Pendidikan (NSP) dikemukakan bahwa : “Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan ketrampilan”. Agar Standar Nasional Pendidikan tersebut dapat tercapai maka dibutuhkan standar pendidik dan tenaga kependidikan yang memadai.
Mulyasa dalam buku Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mengemukakan tentang beberapa persyaratan seorang guru sesuai dengan standar pendidik dan kependidikan, antara lain sebagai berikut :
1. Seorang pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
2. Yang dimaksud dengan kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang harus dibuktikan dengan ijazah dan atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
3. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta PAUD meliputi : kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, sosial, dan kompetensi moral, spiritual secara proposional.
4. Seseorang yang hanya memiliki keahlian khusus yang diakui namun tidak memiliki ijazah atau setifikat dapat diangkat menjadi seorang pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan.
5. Pendidik pada Sekolah Dasar harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum Diploma empat atau sarjana. Selain itu harus mempunyai latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD dan sertifikasi profesi untuk SD.
6. Pendidik pada SMP harus memiliki kualifikasi akademik minimum diploma empat atau sarjana. Selain itu memiliki latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan dan setifikat profesi guru untuk SMP.
7. Pendidik pada SMA harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat atau sarjana. Selain itu memiliki latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaranyang diajarkan dan sertifikat profesi guru untuk SMA .
Kunandar berpendapat bahwa : “Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru. Guru berada di garis terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia. Di tangan para guru akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, keahlian, kematangan emosional, dan moral serta spiritual. Oleh karena itu seorang guru harus mempunyai kualifikasi, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan fungsi dan tugas guru.”
Dengan kualitas guru sebagai pendidik akan memberikan andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Jadi guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal karena minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam rangka untuk membantu peserta didik mengembangkan potensinya secara optimal, maka seorang guru harus mampu memposisikan diri
sebagai :
1. Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didik.
2. Teman, tempat mengadu,dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
3. Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan, dan bakatnya.
4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.
5. Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab.
6. Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan (bersilahturahmi) dengan orang lain secara wajar.
7. Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antarpeserta didik, orang lain, dan lingkunngannya.
8. Mengembangkan kreativitas.
9. Menjadi pembantu ketika diperlukan.
Lebih lanjut ada beberapa paradigma baru yang
harus diperhatikan guru adalah sebagai berikut :
1. Seorang guru jangan sampai terjebak pada rutinitas belaka, namun selalu mengembangkan dan memberdayakan diri secara terus menerus untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya.
2. Seorang guru hendaknya mampu menyusun dan melaksanakan strategi dan model pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) yang dapat menggairahkan peserta didik
3. Dominasi guru dalam pembelajaran harus dikurangi agar peserta didik lebih berani, mandiri, dan kreatif dalam proses belajar mengajar.
4. Seorang guru kiranya mampu memodifikasi dan memperkaya bahan pembelajaran sehingga peserta didik mendapatkan sumber belajar yang lebih bervariasi.
5. Seorang guru kiranya mencintai pekerjaannya sebagai suatu profesi yang menyenangkan.
6. Seorang guru kiranya dapat mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi sehingga tidak tertinggal.
7. Seorang guru dapat menjadi teladan dan mempunyai integritas yang tinggi.
8. Seorang guru kiranya mempunyai visi kedepan dan mampu membaca tantangan zaman sehingga siap menghadapi perubahan.
Sidjabat mengemukakan beberapa hal yang seharusnya dikembangkan oleh guru agar dapat berperan aktif sebagai motivator bagi anak didiknya bukan untuk mementingkan diri sendiri, yaitu :
1. Meningkatkan kemampuan yang dapat menampilkan penguasaan bahan atau pengetahuan. Oleh karena itu seorang guru banyak dituntut untuk selalu belajar yang terkait di bidangnya.
2. Menunjukkan sikap memahami secara mendalam terhadap perasaan dan pengalaman peserta didik. Sikap empati akan memberikan “kesempatan kedua” kepada anak didik untuk berubah.
3. Menunjukkan semangat mencintai bidang studi yang digelutinya, karena dengan demikian akan memberikan semangat belajar kepada peserta didik.
4. Memberikan penjelasan terhadap hal-hal yang masih “kabur” atau kurang jelas, dengan bahasa dan sikap yang dapat dimengerti.
Martinis Yamin menyatakan bahwa guru yang profesional harus memiliki persyaratan sebagai berikut :
1. Memiliki bakat sebagai guru.
2. Memiliki keahlian sebagai guru.
3. Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi.
4. Memiliki mental yang sehat.
5. Berbadan sehat.
6. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas.
7. Guru adalah manusia berjiwa Pancasila.
8. Guru adalah seorang warga Negara yang baik.
Melihat persyaratan di atas menunjukkan bahwa seorang guru dituntut untuk memiliki kualifikasi. Dalam Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia Ayat 26 yang diselenggarakan oleh UNESCO pada tanggal 21 September 1966 di Paris, disebutkan: Perkataan “guru” meliputi semua orang di sekolah-sekolah yang bertanggung jawab dalam pendidikan para murid” . Menurut Ngalim menyatakan bahwa guru adalah semua orang yang pernah memberikan suatu ilmu atau kepandaian tertentu kepada seseorang atau sekelompok orang .
Dari beberapa pengertian guru tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa guru adalah pendidik yang memberikan ilmu atau kepandaian serta membentuk kepribadian yang seutuhnya. Sedangkan guru sekolah minggu menurut Setiawani menyatakan bahwa :
Guru Sekolah Minggu terjun dalam pelayanan pendidikan gerejawi, suatu jabatan rohani yang kudus karena merupakan panggilan dari Allah, maka guru sekolah minggu harus menyelesaikan tugas yang sudah dipercayakan Allah dengan setia .





2. Dasar Alkitab Guru
Di dalam Alkitab Perjanjian Lama, Kejadian 1 dan 2 memberi bukti bahwa Allah membimbing dan mengajar manusia pertama Adam dan Hawa. Walaupun manusia pertama mengalami kegagalan dan tidak tunduk pada otoritas Allah, tetapi Allah tetap setia untuk menjadi pengajar dan mendidik .
Dan di Perjanjian Baru khususnya Injil Yohanes 3 : 2 mengatakan, ”Yesus lebih daripada seorang guru, namun Ia dikenal sebagai ”Guru yang datang dari Allah” . Pengajaran-Nya selalu bertujuan untuk memperkenalkan Allah, sifat dan Karya-Nya kepada manusia dan menegaskan bahwa setiap pengajaran guru harus kembali kepada pengajaran Kitab Suci .
Rasul Paulus menyebutkankan, dalam kehidupannya sebagai pengajar, seorang guru sanggup mewujudkan perubahan atas diri orang lain : yang tadinya tidak percaya menjadi percaya; juga perubahan pada pengetahuan: yang tadinya tidak memahami kebenaran berubah menjadi memahami kebenaran .


3. Hakekat Guru Sekolah Minggu
Hakekat guru Pendidikan Agama Kristen menurut Sidjabat mengatakan sebagai berikut :
a. Guru Sebagai Pemberita Injil.
Seperti hakikatnya sebagai orang Kristen, maka guru PAK menerima mandat spiritual untuk memberitakan Injil kepada dunia (Matius 28:19-20). Menurut Henk Wenema menyatakan: “Perintah Yesus Kristus ini sedang dilaksanakan Seluruh umat Tuhan dipanggil untuk meneruskan kewajiban mengabarkan Injil sampai tuntas mencapai seluruh “kosmos’. Memberitakan Injil adalah kewajiban gereja sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua kali. Marilah kita memberitakan Injil kepada segala makhluk!”
Di lingkungan profesinya, maka yang menjadi sasaran utama pemberitaan Injil guru PAK adalah peserta didik khususnya yang beragama Kristen. Masih terbatasnya pengenalan, pemahaman, dan pengalaman tentang keagamaannya, maka peserta didik yang masih muda perlu untuk mendengar berita Injil secara lebih luas dan terus menerus. Peran guru PAK di sini adalah menyampaikan pengajaran (didache) tentang berita-berita (kerygma) dengan pendekatan pribadi dan atau kelompok.

b. Guru Sebagai Imam.
Istilah Imam sangat menonjol dalam Perjanjian Lama. Imam biasa diartikan sebagai: “Jurubicara umat Israel kepada Allah, dan jurubiacara Allah kepada umat-Nya.” Dalam Perjanjian Baru istilah ini juga muncul walaupun tidak sesering dalam Perjanjian Lama. Makna imam dalam Perjanjian Baru tidak sama dengan Perjanjian Lama. Menurut Perjanjian Baru bahwa setiap orang yang sudah percaya kepada Kristus dapat menjadi imam bagi dirinya sendiri. Ia dapat berbicara secara langsung kepada Allah di dalam doa dan pujian. Ia juga dapat menerima penyataan Allah secara langsung melalui iman kepada-Nya.
Sebagaimana hakikatnya tugas imam adalah untuk melayani, maka dalam peran ini guru PAK juga melayani peserta didik guna menyampaikan berkat Tuhan. Sidjabat menambahkan bahwa guru PAK tidak mengharapkan muridnya mengalami malapetaka, sebaliknya selalu berharap penuh untuk memperoleh intervensi Allah. Dengan demikian, pengajaran yang disampaikannya merupakan pesan-pesan yang berisikan berkat dan anugerah Allah Tritunggal kepada peserta didik .

c. Guru Sebagai Gembala.
Dalam Ensiklopedia Alkitab Praktis, istilah gembala diartikan sebagai penilik jemaat (Tit 1:7), pemimpin sidang (Flp 1:1 TKB), atau pendeta, yang seharusnya memelihara para anggotanya secara lembut, sama seperti seorang gembala memperhatikan tiap dombanya (Kis 20:28; Ef :11) . Abineno menyoroti tentang motif gembala dalam perspektif Alkitab yaitu ekspresi dari pengajaran atau pemeliharaan Allah yang penuh dengan kasih dan penghiburan .
Dalam perannya sebagai gembala di sekolah, guru PAK mempunyai tanggung jawab untuk memelihara, membimbing, dan mengarahkan peserta didik untuk hidup sesuai imannya. Guru PAK hendaknya mengaktualisasikan perannya ini dengan sikap yang lembut dan penuh kasih tetapi juga tegas.

d. Guru Sebagai Konselor.
Di sekolah guru PAK terkadang berhadapan dengan peserta didik yang mempunyai masalah baik yang berhubungan dengan proses pembelajaran maupun masalah-masalah yang berlatar belakang tentang keluarganya. Dalam hal ini guru PAK tentu tidak boleh tinggal diam. Ia wajib memberikan penguatan kepada peserta didik untuk dapat menghadapi dan menemukan jalan keluar atas masalah yang dialaminya. Bentuk perhatian konkrit yang dapat ditunjukkannya adalah dengan bersedia mendengar keluhan peserta didik dan memotivasinya dengan sikap yang simpatik. Abineno manyarankan agar sebagai seorang konselor, hendaklah ia seorang yang praktis, seorang yang mengasihi penderita yang ia tolong dan (di samping itu) terutama seorang yang cukup mempunyai pengetahuan tentang kehidupan. Ditambahkannya lagi, bahwa seorang konselor dalam ikhtiar-ikhtiar dan nasihat-nasihatnya harus mempunyai sifat yang jelas dan konkrit. Ikhtiar-ikhtiar dan nasihat-nasihat itu harus dapat digunakan dalam praktik .

e. Guru Sebagai Teolog.
Sidjabat memberikan alasannya tentang peran teolog yang disandangkan kepada guru PAK:
Guru PAK dapat kita anggap sebagai teolog, dalam arti praktisnya, karena ketika ia mengajar, keyakinan dan pemikiran teologisnyalah yang dikomunikasikan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa teologi berbicara tentang pribadi Allah Tritunggal dan karya-Nya serta nilai-nilai hidup iman Kristen .

Pengajaran yang disampaikan guru PAK bersumber dari Alkitab. Ia menggali, menafsir, dan menceritakan pesan-pesan yang ada dalam Alkitab kepada peserta didik untuk menjadi pengetahuan dan petunjuk praktis dalam hidupnya sehari-hari.

4. Syarat Guru Sekolah Minggu
Syarat-syarat bagi guru Pendidikan Agama Kristen, Menurut Homrighausen menyatakan bahwa “Seharusnyalah seorang guru dalam pendidikan agama memiliki:
a. Pengetahuan yang hidup mengenai pokok yang diajarkannya itu.
b. Kecakapan untuk menimbulkan minat, bahkan menggembirakan hati orang lain dengan pokok itu,
c. Kerelaan untuk dilupakan sendiri, asal hasil pengajarannya tetap tertanam saja dalam hidup orang didikannya, dan
d. Semangat pengorbanan diri, sebagai sebutir benih yang rela mati, supaya dapat melahirkan hidup baru berlipat-lipat ganda” .

5. Tugas-Tugas Guru Sekolah Minggu
Guru Sekolah Minggu terjun dalam pelayanan pendidikan gerejawi suatu jabatan rohani yang kudus karena merupakan panggilan dari Allah. Oleh karena itu ia harus menyelesaikan tugas yang dipercayakan oleh Allah.
Adapun tugas-tugas guru sekolah minggu berdasarkan Setiawani adalah sebagai berikut:
a. Mengajar (teaching) 1 Timotius 2:7
Yang disebut ”mengajar” adalah suatu proses belajar mengajar (Teaching-Learning Process). Di dalam proses mengajar dan belajar guru harus dapat mewujudkan suatu perubahan dalam diri murid, misalnya perubahan dalam pengetahuan, sikap maupun tingkah laku.
b. Menggembalakan (Shepherding) Yehezkiel 34: 2-6; Yohanes 10 : 11-18.
Seorang gembala yang baik harus mempunyai hati yang rela berkorban, meskipun menghadapi kesulitan juga tidak akan meninggalkan dan membiarkan domba-dombanya; ia harus mengenal setiap dombanya, juga bersedia membawa domba yang berada di luar untuk masuk ke kandangnya; ia pun wajib untuk menyediakan dan mencukupi segala kebutuhan dombanya, termasuk kebutuhan intelektual, emosi, mental dan rohani.
c. Kebapaan (Fathering) I Korintus 4 : 15
Seorang guru bukan hanya dapat menggurui, tapi juga harus memiliki hati seorang bapa.
d. Memberikan Teladan (Modeling) I Korintus 11:1 ; Filipi 3: 17 ; I Tesalonika 1:5-6; II Timotius 4: 11-13)
Seorang guru akan mempunyai pengaruh yang amat besar terhadap muridnya karena murid mudah sekali meniru tutur kata dan tingkah laku gurunya. Oleh karena itu, seorang guru perlu selalu memperhatikan diri sendiri apakah ia sudah menjadi teladan yang baik bagi muridnya.
e. Menginjili (Evangelizing) I Timotius 2:7
Sasaran yang terutama dari seorang guru Sekolah Minggu adalah mengajar muridnya untuk menerima injil .


Kompetensi Guru

1. Pengertian Kompetensi Guru
Kompetensi ialah perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Sedangkan dalam kamus Umum Bahasa Indonesia ”Kompetensi ”artinya : ”kewenangan, kekuasaan untuk menentukan, memutuskan sesuatu hal . Kompetensi itu mencakup dasar keahlian dan ciri-ciri umum penunjang. Keahlian mencakup dasar pengetahuan bagi profesi, kecakapan tehnis pokok dalam profesi, dan kemampuan memecahkan macam-macam masalah dalam profesi. Dapat dikatakan bahwa kompetensi ini langsung berhubungan dengan ”wawasan” dan ”karya” profesional .
Nana Sudjana mengartikan kompetensi sebagai suatu kemampuan yang disyaratkan untuk memangku profesi . Mengutip pendapatnya Kunandar mengartikan kompetensi sebagai:
Pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya .

Sedangkan menurut Sanjaya (2006:18-19) menyatakan bahwa Kompetensi guru meliputi:
a. Kompetensi Pribadi
Kompetensi Pribadi adalah kemampuan dalam pribadi guru diantaranya : 1) kemampuan yang berhubungan Tuhan atau beriman ; 2) kemampuan untuk menghormati dan menghargai antar sesama manusia ; 3) kemampuan untuk beperilaku sesuai dengan norma, aturan dan system nilai yang berlaku di masyarakat; 4) mengembangkan sifat-sifat terpuji sebagai guru misalnya sopan santun, dan tata karma ; 5) bersifat demokrasi dan terbuka terhadap pembaharuan dan kritik .
b. Kompetensi Profesional
Kompetensi Profesional adalah kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas keguruan. Kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting, sebab langsung berhubungan dengan kinerja yang ditampilkan. Kompetensi ini diantaranya : 1) kemampuan untuk menguasai landasan pendidikan ; 2) pemahaman dibidang psikologi pendidikan ; 3) kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran ; 4) kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran ; 5) kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar ; 6) kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran ; 7) kemampuan dalam menyusun program pembelajaran ; 8) kemampuan dalam melaksanakan unsur-unsur penunjang dan ; 9) kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja .

c. Kompetensi Sosial dan Masyarakat
Kompetensi Sosial dan masyarakat adalah kompetensi ini berhubungan dengan kemampuan guru sebagai makhluk social dan anggota masyarakat meliputi : 1) kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat ; 2) kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi tiap lembaga kemasyarakat dan ; 3) kemampuan untuk menjalin kerja sama, baik secara individu maupun kelompok .
Suparno menjelaskan bahwa kata kompetensi biasanya diartikan sebagai kecakapan yang memadai untuk melakukan suatu tugas atau sebagai memiliki ketrampilan dan kecakapan yang disyaratkan. Dalam pengertian luas di atas bahwa setiap cara yang digunakan dalam pelajaran yang diajukan untuk mencapai kompetensi adalah untuk mengembangkan manusia yang bermutu yang memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan sebagaimana disyaratkan .
Kompetensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cakap (mengetahui) . Cakap disini adalah Cakap kepribadiannya, cakap pedagogiknya dan cakap secara profesional. Konsep cakap kepribadiannya dengan indikatornya bertindak sesuai dengan norma sosial; bertindak dewasa ; arif dan bijaksana; berakhlak mulia dan menjadi teladan. Konsep cakap pedagogik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Dan Konsep cakap profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum dan metodologi keilmuan .
Menurut Palan (2007:8) dalam Yamin dan Maisah, mendefinisikan kompetensi sebagai karakteristik dasar seseorang yang memiliki hubungan kausal dengan kriteria referensi efektivitas dan/atau keunggulan dalam pekerjaan atau situasi tertentu. Karakter dasar diartikan sebagai kepribadian seseorang yang cukup dalam dan berlangsung lama, yaitu motif, karakteristik pribadi, konsep diri, dan nilai-nilai seseorang. Kriteria referensi berarti kompetensi dapat diukur berdasarkan kriteria atau standar tertentu. Hubungan kausal, bahwa keberadaan kompetensi memprediksi atau menyebabkan kinerja unggul. Kinerja unggul berarti tingkat pencapaian dalam situasi kerja. Sedangkan kinerja efektif adalah batas minimal level hasil kerja yang dapat diterima .
Dalam Undang-undang Guru dan Dosen No. 14/2005 dan Peraturan Pemerintah No. 19/2005 dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi :1) Kompetensi Kepribadian ; 2) Kompetensi Pedagogik ; 3) Kompetensi Profesional ; 4) Kompetensi Sosial. Farida Sarimaya (2008:17-22) menjelaskan keempat jenis kompetensi guru sebagai berikut; 1) Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik; 2) Kompetensi Pedagogik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya; 3) Kompetensi Profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah; 4) Kompetensi Sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar .

Kompetensi Guru Sekolah Minggu
Mengacu pada pendapat Setiawani (2005) bahwa syarat guru sekolah minggu adalah :1) Seorang yang telah lahir Baru/diselamatkan;2)Seorang Kristen yang bertumbuh; 3) Seorang Kristen yang setia terhadap Gereja; 4) Seorang yang memahami bahwa pelayanan pendidikan adalah panggilan Allah; 5) Seorang yang suka pada objek yang dididiknya; 6) Seorang yang baik dalam kesaksian hidupnya; 7) Seorang yang telah menerima latihan dasar sebagai guru; 8) Seorang yang melayani dengan bersandar pada kuasa Roh Kudus .
Dari syarat guru sekolah minggu tersebut di atas dapat dikatagorikan dalam jenis indikator kompetensi guru Sekolah Minggu sebagai berikut:1) Indikator Kompetensi Spritual yang meliputi sub indikator : a. Lahir Baru/diselamatkan; b. Bertumbuh(berdoa, membaca Alkitab dan tekun beribadah);c. Loyalitas terhadap Gereja; d.Kesadaran terhadap panggilan Allah. 2) Indikator Kompetensi Pedagogik meliputi sub indikator; a. Mengenal anak didik dan b. Mengetahui teknik mengajar. 3) Indikator Kompetensi Sosial dengan sub indikator yaitu kesaksian hidupnya.
Masing-masing indikator kompetensi tersebut dijelaskan sebagai berikut :
1. Indikator Kompetensi Spiritual
Lidya Yulianti menjelaskan bahwa kompetensi spiritual adalah Kemampuan pendidik yang berkaitan dengan hal-hal yang berasal atau bersumber dari Tuhan, yang menjadi bagian hidup dari manusia sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar dengan roh atau jiwa, pikiran dan hati nurani .
Sub indikator dalam Kompetensi Spiritual melipiuti :
a. Lahir Baru/diselamatkan
Pendidikan di Sekolah Minggu bukan hanya menyampaikan pengetahuan Alkitab, namun juga mementingkan pembinaan hidup. Seorang yang tidak memiliki hidup Kristus, tentu tak sanggup membina hidup, apalagi mempengaruhi hidup orang lain. Sebab itu pengalaman lahir baru/diselamatkan adalah syarat utama bagi seorang guru sekolah minggu .
Pengertian tentang Lahir Baru menurut Alkitab diuraikan sebagai berikut : Seseorang yang sudah benar-benar lahir baru, yang diberikan sebagai "kasih karunia" (anugerah) dari Tuhan tidak dapat menahan kuasa kasih karunia Tuhan untuk menyelamatkannya. Dan Tuhan akan menyelamatkan semua orang-orang pilihan yang ingin Ia selamatkan, dan tidak satu orangpun yang dapat menghalangi rencana Tuhan. Yesus berkata di Yohanes 10:27-29: "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa." Allah yang kita sembah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, dan Ia adalah "pengarang dan penyelesai" dari iman kita jika itu adalah iman yang diberikan sebagai kasih karunia dari Tuhan. Alkitab berkata di Ibrani 12:2a (versi BIS) "Hendaklah pandangan kita tertuju kepada Yesus, sebab Dialah yang membangkitkan iman kita dan memeliharanya dari permulaan sampai akhir". Karena itu dijamin kalau kita sudah betul-betul diselamatkan kita tidak dapat kehilangan keselamatan tersebut (Roma 8:35-39). Nah, sekarang kapan kita bisa mengetahui kalau kita sudah betul-betul diselamatkan? Alkitab berkata misalnya di Roma 8:16 "Roh Allah akan bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah." Dan di 1 Yohanes 2:3-6 berkata: "Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” .

b. Bertumbuh
Seorang Kristen yang suam-suam kuku dan tidak mempunyai kerinduan untuk maju dalam hidup rohaninya, tak mungkin memiliki gairah untuk memperhatikan kehidupan rohani orang lain. Sebab itu hanyalah orang Kristen yang memiliki kerinduan untuk bertumbuh dalam Kristus layak menjadi guru Sekolah Minggu. Menurut Dr Billy Graham dalam Ruth dan Ani (1998:39) menyatakan bahwa untuk membawa seorang sampai mengenal Tuhan Yesus sebagai juruselamat pribadi, dibutuhkan usaha sebanyak 5%. Tetapi untuk membimbing orang yang telah menerima Tuhan Yesus dalam pertumbuhan rohani,dibutuhkan 95% usaha. Paulus membicarakan pertumbuhan yang bertobat, dan firman Tuhan itu berlangsung baik dalam hidup orang dewasa maupun anak:”kamu telah menerima Kristus Yesus Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu di dalam iman yang telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur Kolose 2:6-7. Bertumbuh meliputi berdoa (berdoa dalam segala keadaan; mengakui dosa; mengucap syukur; mendoakan orang lain; persekutuan doa), membaca Alkitab (waktu teduh), aktif dalam persekutuan-persekutuan orang-orang percaya dan bersaksi .
Bahwa proses bertumbuh menjadi dewasa tidak ada yang otomatis, namun perlu komitmen. Dan komitmen itu harus dengan sengaja dilakukan dan dipraktekkan. Jangan berpikir jika setiap minggu datang ke gereja kemudian dengan tertib memberikan persembahan itu sudah cukup sebagai modal untuk bertumbuh. Mengapa? Karena hidup orang percaya bukan hanya mendengar tetapi ia juga harus taat dan mempraktekkan apa yang sudah didengar. Tidak jarang menemukan orang-orang yang sudah mengerti pengetahuan Alkitab, namun tetap hidupnya berantakan. Gossip tetap saja berlangsung, omong kotor tetap diucapkan, dendam tetap ada di dalam hatinya dan tidak ada pengampunan. Semua ini dapat terjadi karena tidak adanya komitmen di dalam dirinya untuk bertumbuh.
Dr John Chamber, seorang misionaris yang pernah melayani di Indonesia dan saat ini melayani mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat pernah mengucapkan satu kalimat begini “Orang Kristen tidak diminta Tuhan menjadi salesman, tetapi ia diminta menjadi free sample” Di dalam teori ekonomi, yang dimaksud dengan free sample sudah pasti produk yang mutunya paling baik, sebab kalau yang free sample mutunya jelek, maka produknya tidak ada yang bakal beli. Sayang sekali, ada banyak free sample yang pada mulanya baik, namun kalau sudah menuju ke produknya, hasilnya sudah jelek. Tidak jarang menemukan para pedagang yang menjual Mangga atau Salak, yang memberikan contoh Mangga dan Salaknya untuk dimakan rasanya manis, namun jika kita sudah membeli sekarung, maka rasanya asem semua. Kekristenan juga demikian, pada saat permulaan kita mengenal seseorang yang di persekutuan atau gereja, maka orangnya baik sekali, dan kelihatan sangat rohani dan suci. Namun makin lama bergaul, keluarlah belangnya.
Jadi dengan tegas bahwa tidak ada gunanya segudang teori, entah itu Seminar, Conference, bahkan Sekolah Alkitab yang pernah ikuti kalau di dalam diri ini tidak ada komitmen untuk bertumbuh maka akan menjadi sama seperti orang luar, dan orang Kristen Bonsai, kepalanya boleh besar penuh dengan segudang ilmu, namun hatinya kecil dan kerdil.
Perlu adanya Pembaharuan hidup yang nyata
Berhubung manusia sudah berdosa, maka akar manusia lama tetap saja lengket dalam hidup ini. Apalagi menyangkut kepentingan pribadi, maka orang percaya kadang bisa lupa diri, itu sebabnya saudara dalam Kristus pun rela dikorbankan. Nah hal-hal semacam begini yang menjadi batu sandungan bagi orang luar untuk masuk ke dalam gereja. Bahwa terlalu sering orang percaya sendiri menjadi penghalang utama bagi baru untuk menjadi percaya, bukan orang luar. Mengapa? Karena si orang percaya tersebut tidak ada pembaharuan dalam dirinya. Alkitab mungkin sudah berulang kali dibacanya, bahkan ada puluhan ayat yang sudah dihafal secara luar kepala. Ia juga memiliki Alkitab lebih dari satu, mulai dari meja kamar, meja kerja, meja tamu, mobil, bahkan kantong saku semua berisi Alkitab. Namun semua ini tidak menjamin kerohaniannya bertambah dewasa, karena ia tidak pernah membiarkan dirinya diperbaharui oleh firman Tuhan itu. Tatkala semuanya berjalan lancar, maka puji Tuhan; namun jika kesulitan menimpa, Tuhan pun dilupakan. Orang percaya yang dewasa, kekristenan harus didemonstrasikan atau diwujudnyatakan. Orang luar tidak perduli dengan keaktifan di gereja, persekutuan bahkan melayani, namun yang paling penting adalah karakter dan integritas yang nyata.
Perlu mengalami secara pribadi, Rick Warren, pendeta senior gereja Saddleback mengatakan, “adalah suatu kekeliruan jika orang-orang berpikir bahwa kerohanian seseorang akan bertumbuh melalui studi Alkitab”. Pada saat pertama saya membaca tulisannya, saya merasa kaget juga. Namun setelah berpikir ulang saya sadar, bahwa sesungguhnya studi Alkitab tidak menjamin bahwa rohani seseorang bertumbuh. Terlalu banyak ditemukan mereka yang makin belajar Alkitab, lalu pulang ke gereja menjadi para pengkritik, bahkan ada satu dua yang mencoba-coba mengadakan reformasi di gereja. Jika seseorang hendak bertumbuh rohaninya, maka selain Alkitab yang dibacanya, maka ia juga perlu mengalami Tuhan secara nyata, dan untuk mengalami Tuhan secara nyata maka perlu waktu, tidak dapat secara instant. Mengalami kesulitan bahkan penderitaan dan tekanan, supaya benar-benar merasakan dan mengalami kasih Tuhan yang nyata itu. Tatkala Musa berumur empat puluh tahun, ia berpikir bahwa ia sudah terlatih dan memilki segalanya dari istana, sehingga dengan tekad bulat ia berusaha membebaskan bangsanya yang sedang disiksa oleh salah seorang prajurit Mesir. Namun apa lacur? Perbuatannya terbongkar, sehingga ia terpaksa harus melarikan diri dalam pengasingan, dan di sana ia mengalami kasih Tuhan. Pada saat umur seratus dua puluh tahun dia kembali diutus Tuhan untuk menghadapi Firaun untuk membebaskan orang Israel, namun pada saat itu Musa mengaku bahwa dirinya tidak ada apa-apanya. Mengapa? Orang yang sudah mengalami kasih Tuhan, walaupun ia penuh dengan segudang ilmu dan keahlian, ia tetap saja merasa rendah di hadapan Tuhan.
Studi Alkitab tidak cukup, pengalaman menyembah Tuhan, pengalaman persekutuan satu dengan yang lain dan juga pengalaman penginjilan. Dengan demikian bukan hanya dibangun dan diisi secara otak, tetapi juga hati, sehingga benar-benar menjadi orang Kristen yang dewasa secara rohani .



c. Loyalitas Terhadap Gereja
Seorang guru sekolah minggu bukan hanya membawa orang datang ke sekolah minggu, tapi lebih dari itu, ia harus dapat membawa orang datang ke hadirat Allah, menjadi salah satu anggota keluarga Allah. Ia juga harus seorang anggota gereja yang loyal atau setia, yang sanggup memimpin murid untuk menjadi satu bagian dalam gereja, mengikuti ibadah di gereja dan kebaktian-kebaktian lain.
Pengertian loyalitas adalah sebagai berikut :
1) Loyalitas (loyality) adalah karakter kepribadian
seseorang, yang berarti setia.
2) Konkordansi Alkitab mencatat kata lain selain
kesetiaan adalah kata "Setia" dan "Setiawan".
Setia (loyal) lebih berkenaan dengan sifat
seseorang, sementara Setiawan menunjuk pada
orangnya.
3) The International Standard Bible Encyclopedia
menjelaskan konsep kesetiaan/loyalitas - menurut
akar kata hesed (bahasa Ibrani) atau pistos
(bahasa Yunani) yang berarti mencakup dua aspek:
a) mempercayai (trust)
b) dipercayai (faithfullness)
sehingga seorang dengan yang lain dapat
berhubungan dengan sangat baik. Jadi, sudahkah
Gereja menjadi tempat bagi orang untuk trust and
faithfullness?
4) Dalam bahasa Inggris, karakter loyal,
diterjemahkan dengan:
a) kindness (kebaikan)
b) mercy (murah hati)
c) goodness (kebaikan)
d) loyal friendship (kesetia-kawanan)
e) faith (iman)
f) befriended (berteman dengan baik)
g) faithfully (terpercaya).
5) Beberapa bagian Alkitab yang mencatat karakter
Loyal dalam berbagai dimensi:
a) Kej.21:23 - kesetiaan berupa persahabatan yang tidak curang.
b) Kej.24:49 - kesetiaan sebagai suatu komunikasi yang terbuka/terus
terang/transparan.
c) Kej.47:29 - kesetiaan berupa janji yang akan ditepati.
d) 1 Sam.20:14-15 - kesetiaan adalah kasih setia Tuhan dalam
persaudaraan.
e) 2 Sam.2:5-6 - kesetiaan sebagai kebaikan.
f) 2 Sam.3:8 - kesetiaan sebagai pengabdian dan pembelaan.
g) 1 Raj.2:7 - kesetiaan sebagai keberanian menanggung resiko karena
kebenaran.
h) 1 Taw.19:2 - kesetiaan ditunjukkan dengan persahabatan.
i) Mzm.18:26 - kesetiaan terkait dengan keadilan Allah.
j) Ams.3:3 - kesetiaan merupakan sikap hati yang dihargai Allah dan
manusia.
k) Ams.14:22 - kesetiaan adalah hadiah yang diperoleh karena
kebaikan.
l) 3 Yoh.5 - kesetiaan adalah tindakan iman kepada orang asing.
Sudahkah karakteristik Loyal tersebut terasa dan dialami betul dalam
Gereja?
6) Tujuh catatan penting mengenai Loyalitas:
a) Faedah: lahirnya persahabatan yang teruji dalam waktu, dan
semangat pembaharuan yang baik.
b) Konsekuensi buruk: tidak ditemukan.
c) Janji Allah yang terkandung: penghargaan Allah.
d) Peringatan Allah bagi orang Kristen: Allah dapat berlaku tidak setia,
jika orang Kristen tidak setia.
e) Perintah Tuhan: berlaku setia.
f) Penulis Alkitab yang sering mengulas: Paulus.
g) Kategori Karakter: digolongkan sebagai Buah Roh Kudus (Gal.5:22).
7) Loyalitas dapat disimpulkan sebagai cerminan sifat Allah, dalam
keadilan-Nya, sehingga setiap orang Kristen harus bertindak loyal,
karena Allah adalah loyal (1Kor.1:9; 2Tim.2:13), dan itulah yang disebut
sebagai Buah Roh Kudus (Gal.5:22).
8) Paulus adalah tokoh teladan dalam Alkitab.
a) Loyalitas-nya kepada Kristus, tampak dalam penderitaannya (2
Kor.6:4-10; 11:23-29).
b) Loyalitas-nya kepada Kristus menguasai hati dan pikirannya,
sehingga seluruh hidupnya berprinsip pada kesetiaan (Flp.1:21).
c) Loyalitas membantu hidupnya, terbukti ia tidak kuatir akan hidupnya
(1 Kor.9:12).
d) Dengan hasil pertumbuhan gereja yang sehat .


d. Kesadaran Terhadap Panggilan Allah
Guru memahami bahwa pelayanan pendidikan di sekolah minggu adalah panggilan yang khusus dari Allah, maka seharusnya guru dapat setia dan bertanggung jawab kepada Allah, sehingga dalam kesulitan yang bagaimanapun, guru dapat tetap teguh dalam iman, sabar dan setia sampai pada akhirnya .
Jika seorang guru kehilangan panggilannya, maka salah satu hal berikut ini mungkin dapat terjadi : 1) Tidak mau lagi menjadi guru karena kehilangan panggilan itu; 2) Guru mungkin masih melayani, namun hanya merasa ingin menjadi guru bantu, merasa mangajar itu bukan panggilannya, bukan tanggung jawabnya, Pelayanan kurang berkualitas;3) Guru mungkin aktif melayani, merasa hanya sekedar sebagai aktivis sekolah minggu/komisi anak. Ketidaksadaran akan sebagai guru ini membuat menjadi aktivis yang banyak bermasalah karena tidak mengerti panggilan seorang guru. Yang jelas, bukan guru yang patut diteladani sikap hidupnya. Orang semacam ini sering menjadi pembuat masalah di antara para guru .

2. Indikator Kompetensi Pedagogik
Menurut Lidya Yulianti, kompetensi pedagogik adalah, “Kemampuan mengelola pembelajaran yang mendidik, dialogis, dan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik” .
Sub indikator kompetensi pedagogik meliputi sebagai berikut:
a. Mengenal Anak Didik
Tidak semua orang suka mendekati anak-anak atau remaja dan pula tidak semua orang suka bergaul dengan pemuda. Seorang guru Sekolah Minggu harus mengetahui dan mengenal anak didiknya karena untuk kelancaran dan keefektifan proses belajar mengajar di Sekolah Minggu. Menurut Lie mengatakan bahwa “... mana mungkin memahami keadaan dan kebutuhan anak, kalau namanya saja tidak kenal? “ pastilah sangat miskin hasil, atau kurang berhasil. Diibaratkan orang yang membuat sebuah bangunan, tetapi tidak tahu untuk apa bangunan itu, siapa yang akan menggunakannya, dan bagaimana fondasi bangunan itu? Meskipun rumah itu berhasil dibangun, tetapi pasti tidak bisa digunakan secara maksimal karena desain awalnya sudah tidak terarah pada kebutuhan .

b. Mengetahui Teknik Mengajar
Seorang guru Sekolah Minggu yang berhasil haruslah mengisi diri dengan pengetahuan Alkitab, memahami ciri-ciri khas dari tingkah laku, maupun perkembangan jiwa muridnya, menguasai teori mengajar yang dasar,juga memahami adminitrasi dan organisasi Sekolah Minggu. Sebab itu, guru perlu mengikuti latihan-latihan tertentu, barulah dapat mengajar dengan efektif .

3. Indikator Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik yang merupakan bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama guru atau pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, maupun masyarakat sekitar.
Sub indikator kompetensi sosial adalah kesaksian hidupnya. Bila guru sendiri tidak memiliki kesaksian hidup yang baik, maka bagaimana mungkin dapat memberikan pengaruh yang baik kepada muridnya?. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, demikian juga kesaksian hidup yang baik.

1 komentar: